20 Agustus 2014,
Yap tepat, tanggal tersebut adalah hari dimana ayahandaku, pergi meninggalkan keluarga ku termasuk diriku untuk selamanya. Beliau meninngal karena Penyakit kanker akut yang di derita sejak lama, Ia pergi tanpa mengucapkan 1 kata pun padaku saat itu. Kala itu ayah ku sedang dirawat di sebuah rumah sakit karena sebelumnya mengalami pendarahan yang parah dan aku sedang mengikuti Kegiatan oraganisasi di sekolah. Setelah sekitar jam set 5 aku pulang, kebetulan dirumah sedang ada nenek dan kakekku yang sedang berkunjung. Namun suasananya menjadi gempar, ketika tiba sesampainya dirumah mereka sedang mengunci pintu rumah dan bergegas mau pergi. Dalam kepanikan itu aku bertanya. "Ada apa nek ?" dan da hanya menjawab "Ayahmu Kritis". Tanpa berfikir panjang aku langsung bergegas memasukan motor kedalam rumah dan mengunci rumah, dan segera memesan taksi di pangkalan taksi di dekatku. Dalam perjalanan hatiku gelisah, memikirkan apa yang harus tidak dipikirkan. Dalam perjalanan yang menjelang magrib itu aku terus berdo'a agar apa yang kupikirikan tidak terjadi, namun kala itu Allah berkehendak lain. Sebuah telfon dari Handphone nenek kuberdering, itu telfon dari Ibuku yang menjaga Ayahku dirumah sakit selama ini, Lalu nenek ku mengankat telfon tersebut, Tepat ! seperti feeling ku, ibu memberi tau pada kami yang sedang dalam perjalanan bahwa Ayahanda-ku telah di panggil oleh Allah S.W.T, lalu jatuh lah air mataku setelah lama tak pernah mengeluarkan air mata, dadaku terasa sesak, dan tubuhku terasa lemas. Di satu sisi aku merasa mengikhlaskan dan mencoba kuat, namun di satu sisi aku merasa menyesal dan menyalahkan diri sendiri, tak bisa menghabiskan waktu lebih banyak di samping dirinya. Setelah sampai di sana ternyata sudah banyak saudara dan saudariku berkumpul. Mereka tadinya hanya berniat menjeguk, namun maha besar Allah mereka datang di hari terakhir mereka telah datang. Seaat di depan pintu rumah sakit tante ( adik ayahku ) telah menunggu, akupun menghampirinya dan memeluknya sangat erat. Beliau berkata "Agung, Sabar ya, jaga adik dan mama baik - baik " entah kenapa kata - kata itu membuat diriku kuat untuk sesaat. Ketika menuju lantai 2 aku bertemu ibuku dari kejauhan, beliau tampak terlihat tegar, namun aku tau di dalam dirinya ia sangat sedih dan kehilangan orang yang sangat - sangat mencintai dirinya. lalu aku berjalan cepat menghampiri ibuku dan ia langsung memeluk ku menangis tersedu, mungkin dirinya tak bisa menahan kesedihan dalam hatinya, aku pun secara tak sadar menangis kembali di hadapannya. Aku tak habis fikir anak seperti apa aku ini, tak ada di saat terkahir ayahku, melainkan orang lain. Beberapa menit kemudian Adzan berkumandang, aku pun masih menangis menyalahkan diri sendiri, dan menyesali apa yang terjadi, namun beberapa saat akupun berdiri dan menguatkan diri untuk menjalan kan Sholat di mushola terdekat. Ketika selesai sholat, aku tak mengerti mengapa masih ada orang yang tersenyum tak melihat kesedihan ku saat itu, namun aku berfikir sejenak bahwa, mereka suatu saat akan merasakan apa yang akan ku rasakan. Aku pun mulai tegar, dan akupun berdo'a pada Allah dalam kesunyian diri dan penuh berserah.
kemudian, aku bangkit menuju rumah sakit kembali, dengan wajah yang sok tegar, aku menenangkan ayahku. dan kami bergegas pulang menuju rumah, aku, dan tante dan paman ku berada di dalam mobil jenazah dan saudara - saudara , nenek, kakek, dan ibuku menaiki mobil berbeda. selama perjalanan aku meratapi jenazah ayahku yang berada di depan mataku, dalam perjalanan banyak orang yang memberiku kata-kata turut berduka cita melewati media sosial dan sms. Entah dari mana mereka tahu namun yang pasti aku sangat berterima kasih mereka ada untukku disaat aku bingung, ketakutan, gelisah, stres yang amat berat. Sesampainya di rumah ternyata sudah banyak bendera kuning di kibarkan di tiang - tiang tertentu, banyak kerumunan orang yang menatap mobil Jenazah dengan tatapan yang tak dapat ku mengerti. Sesampainya di sana ayahku di pindahkan untuk di mandikan, disana banyak teman-teman yang memberiku semangat, dan ada beberapa anggota organisasi dan teman-teman semasa smp yang datang. Sebenarnya aku bahagia atas apa yang mereka lakukan padaku setidaknya mereka membuat diriku lebih kuat sedikit. Namun ada hal yang berat untuk ku lakukan, yaitu aku memandikan ayahku untuk terakhir kalinya, sebenarnya aku tidak kuat untuk berdiri, kaki ku bergetar karena semua itu, tapi aku tak punya pilihan lain ini adalah salah satu momen terakhir ku. Beberapa saat kemudian ayahku di kavankan. aku tak mengikuti hal itu, aku serahkan hal itu pada bapa-bapa yang lebih mengerti dari pada aku, setelah selesai di kavankan ayahku di bawa ke masjid untuk di solatkan. Pada saat itu juga aku mandi dan mengganti baju ku dengan baju "BATIK KESAYANGAN" beliau, aku menggunakannya dan bergegas ke masjid untuk menjalankan solat jenazah.
Tak lama setelah itu aku mengantarkan ayahku menuju pemakaman, tempat peristirahatan terakhirnya, disinilah momen terberat dalam hidupku aku menurunkan Jenazahnya di bantu oleh orang-orang dan aku turun untuk mengadzankannya, setelah adzan selesai, aku di minta untuk membaringkannya kesamping dan membuka kavan yang berada di kepala beliau, sungguh berat aku melihat wajahnya di dalam tanah, bibirnya yang pucat, dan kulitnya memutih. Namun aku berfikir aku harus kuat dan bangkit, kemudian di letakanlah papan-papan di atas jenazah membentuk miring kekanan, dan ketika selesai maka diturunkan tanah dari permukaan untuk menutupi sedikit demi sedikit liang lahat. Itulah pemandangan yang sangat berat, sedikit demi sedikit dan akhirnya benar-benar tertutup, aku sebenarnya melihat ibuku yang menangis ketika saat-saat itu dilakukan, namun aku hanya bisa berpura-pura tidak tau akan hal itu, namun aku tau ibuku adalah orang yang sangat tegar. Lalu akupun pulang menuju rumah, dan yap, kehidupan baru mulai berjalan.
Aku tau hidup itu tentang sebuah perpindahan, ada yang pergi dan ada yang datang, namun karena itulah Allah menciptakannya agar hidup kita penuh makna, Kepergian orang yang disayang memang membuat kita terpukul, namun terdiam dalam keadaan itu terlalu lamapun tak baik. Setiap manusia yang di lahirkan telah di takdirkan untuk kembali lagi pada-Nya suatu saat, dan rasa menyesal itu tak berguna, karena itu tak akan merubah apapun. Belajar lah dari kesalahan walaupun itu sulit, karena aku yakin, Tak ada manusia yang ingin mengulangi kesalahan yang besar untuk kedua kalinya.
"TEGARLAH DAN AKHIRI APA YANG KAU MULAI, HIDUP INI MASIH PANJANG, DAN WAKTU TAK SEBAIK ITU MENUNGGU MU AGAR KAU SIAP!" - Ace

No comments:
Post a Comment